Coretan Martina

"Bercerita dan berpuisi suka-suka...."

Mengigau

Inikah harinya, Tuhan?
saat kering menyecap dengan dengkingan nyaring
dan jelaga terasa semakin pekat
tergigit lidahku kelu
adakah pepulih yang tertebar tertabur
sanggup menenangkan waktu?

Inikah harinya, Tuhan?
ketika kusut hidup menyerabut nyawa
dan sang jiwa masih terikat di ujungnya
masai wajahku
kuyu langkahku
tak sanggup menatap Cahaya
sekedar mengatup tangan
atau melantun doa-doa

Inikah harinya, Tuhan?
Saat jantung berhenti berdegup
dan gelap segera menjadi sahabat
jika ini yang Kau maksud dengan kembali pulang
tolong jangan bangunkan aku
karena aku tak mau tertipu

SECANGKIR KOPI

ini tentang secangkir kopi
yang biasa menemani indahnya hari

secangkir kopi kental manis
senantiasa beraroma cinta
sang suami menyeduhnya setiap pagi
menguapkan kantuk sang istri entah kemana

secangkir kopi kental manis
masih beraroma cinta
setiap hirupan adalah ganti senyuman
dan pelukan sayang

secangkir kopi kental manis
adalah bahagia tanpa nama
pengikat kau dan aku
pengikat jiwa


******

11 Juli 2008

KISAH

laki-laki itu bernama Sepi
dan perempuan itu bernama Sunyi
mereka dipertemukan oleh temaram wajah bulan
yang tak sanggup gambarkan rupa

laki-laki Sepi dan perempuan Sunyi itu
melahirkan kegelapan
anak- anak gulita yang tersedan dalam tangis
bayi-bayi  tanpa nama
jiwa-jiwa  tanpa suara
di manakah surga?

laki-laki Sepi dan perempuan Sunyi
tergambar di lengkung cakrawala
memaksa dan terpaksa apa bedanya
jika dalam nafas tiada cinta
 

FIXING A BROKEN HEART

Laki-laki itu kukenal sejak masih ingusan. Usianya empat atau lima tahun di atasku. Bagiku ia adalah satu-satunya laki-laki yang menarik waktu itu. Bukan karena berwajah tampan karena menurutku ia bertampang biasa-biasa saja. Atau kaya raya banyak uang. Tapi karena dia bertampang menyejukkan. Dan menurutku ia adalah laki-laki paling lucu sedunia, karena di dekatnya aku selalu merasa gembira dan ingin tertawa. Bisa jadi ia adalah duplikat Charlie Caplin yang dikirimkan Tuhan untukku.

Waktu itu menjelang SMA. Laki-laki itu begitu saja menyatakan cintanya. Tanpa kata. Tanpa lagu. Dalam diam ia merengkuh pundakku di bawah payung ketika hujan menderai-derai mengantar kami berangkat ke gereja. Aku senang bercampur takut. Diakah malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku?

Bertahun aku dan laki-laki itu dekat dalam kediaman. Aku tahu ia mencintaiku. Sangat mencintaiku. Aku bisa merasakannya. Tatapannya. Genggamannya di tanganku. Dan seluruh perhatiannya. Di depannya aku luruh sekaligus ragu. Apakah cintaku sama besar seperti cintanya padaku?

Ketika perjalanan cinta semakin samar dan aku semakin hampa. Dengan ragu aku katakan pada laki-laki itu : "Sebaiknya kita berpisah! Karena aku sungguh tidak tahu, apakah aku mencintaimu, atau sekedar berpura-pura mencintaimu. Jadi kalau kau tanya alasannya, aku tak tahu. Aku hanya ingin kita berpisah".

Laki-laki itu tergugu. Ia yang kupikir dulu begitu ceria dan setegar karang. Wajahnya yang sejuk meneteskan air mata untuk kali kedua. Pertama waktu Ayahnya meninggal dunia. Kedua waktu kuucapkan kata pisah.

Hari itu aku belajar satu hal : Adalah seorang perempuan yang bisa membuat seorang laki-laki tegar meneteskan air mata.

Laki-laki itu kemudian menghilang. Angin rantau membawanya pergi. Membawa kenangan di antara awan-awan. Di mana ia sekarang aku tak tahu. Aku bahkan tidak mau tahu. Bisa jadi hanya Tuhan yang tahu. Yang kutahu adalah : Seorang malaikat pernah dikirimkan Tuhan untukku. Malaikat baik hati yang dengan sadar kusakiti hatinya. Malaikat yang selalu memberi cinta namun tak pernah menuntut cinta.

Laki-laki itu adalah gambaran angin kembara, yang berbagi kesejukan di padang gersang. Ia adalah gambaran cinta tanpa pamrih. Cinta yang telah menemukan kesejatian sesungguhnya. Cinta yang rela mati untuk orang yang dicintai. Bukankah cinta memang tidak harus memiliki?

WAWANCARA

Hari ini tanggal 21 April. Seperti biasa, di Indonesia tanggal tersebut diperingati sebagai hari Kartini. Seperti biasa pula, peringatan hari Kartini seperti identik dengan sanggul dan kebaya. Satu lagi, identik dengan urusan masak-memasak, yang jatuhnya tidak jauh-jauh dari urusan perut.

Itu sebabnya aku bermaksud melakukan wawancara dengan Ibu R.A Kartini yang konon katanya adalah pendekar emansipasi wanita di negara ini. Biar saja orang berpikir itu tindakan konyol. Daripada aku penasaran dengan pertanyaan berjibun yang tidak terjawab?

Aku : Selamat siang, Ibu. Selamat datang di blog saya, yang secara khusus saya buat untuk menampung ide2 saya yang tiba2 muncul. Blog nano2 begitulah.....!

Kartini: Selamat siang juga. Terima kasih atas undangannya. Blognya bagus kok. Sering diupadate, ya?

Aku : Nggak juga sih, Bu. Kalau boss saya lagi banyak kerjaan dan nampak marah2 melulu ya terpaksa ditinggalin alias nggak bisa ngupdate. Kalau boss lagi cerah dan ide mengalir bak air mancur ya saya update (Kok malah ngomongin blog ya?). - Begini Bu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Apakah Ibu tidak keberatan?

Kartini: Ah, tidak. Malah saya sangat senang dengan perempuan2 Indonesia yang berani mengajukan pertanyaan. Itu tandanya otak mereka masih berjalan dengan baik. Masih normal. Dengan senang hati saya akan mejawab pertanyaan Anda (Ibu Kartini tersenyum dengan maniiiss sekali, mirip kembang gulali).

Aku : Pertanyaan pertama. Mengapa sampai sekarang Anda masih setia dengan kebaya dan bersanggul? Apa nggak ribet gitu loh. Saya aja yang ngeliat ribet. Apalagi kalau harus makai.

Kartini: Oh ini....! Begini ya Mbak. Kalau boleh saya kasih bocoran. Saya sebenaarnya gerah juga dengan pakaian seperti ini. Tapi jaman saya dulu adanya pakaian ya seperti ini modelnya. Kalau misalnya saya bukan wong Jowo, bukan keturunan bangsawan, mungkin ndak seperti ini baju yang saya kenakan.

Aku : Ooo.....tapi Bu, kalau boleh memilih, baju seperti apa yang akan Ibu favoritkan di jaman sekarang ini?

Kartini: Ya, sesuai dengan jiwa saya yang agak2 pemberontak dan menyukai tantangan gitu. Pastinya saya akan memilih baju yang sportif. Jeans dan T-Shirt sepertinya aman2 saja untuk dipakai ya? (Loh...kok selera Ibu Kartini sama kayak aku sih?)

Aku : Wah OK juga tuh Bu. Nah, sekarang masuk pertanyaan kedua. Ibu suka nggak sih jadi pelopor emansipasi wanita di Indonesia ini?

Kartini: Loh...ya sudah pasti toh....! Kalau dulu saya tidak memulai dengan "berani" ngomong, bicara, dan mengeluarkan uneg2 saya, dah pasti sampeyan2 ini nggak akan seperti sekarang ini. Bisa jadi para perempuan Indonesia masih saja sibuk ngurus rumah, ngurus anak, ngurus suami. Tahunya hanya 2 urusan saja: Urusan dapur dan kasur. Itu kan primitif sekali ngono loh. Atau kalau tidak, sampeyan pasti sekarang nggak kerja di Batamindo karena harus ngurus anak dan suami, tul nggak?? (waduh...makin lama kok makin medok aja nih Ibu?).

Aku : Iya juga sih, Bu. Nah sekarang pertanyaan terakhir Bu. Ibu setuju nggak sih kalau sebagai salah seorang pahlawan bangsa, Ibu dikenang hanya dengan bersanggul dan berkebaya doang? Atau kalau nggak, dengan mengadakan lomba masak-memasak untuk memperingati Anda? Kalau saya sih nggak setuju karena saya nggak suka sanggulan dan berkebaya, apalagi masak.

Kartini: Hmm...saya hargai kejujuran Anda. Saya pribadi sih nggak masalah orang mau mengenang saya dengan cara apa. Hanya saja dari semuanya itu, yang terpenting adalah inti emansipasi itu sendiri. Bukan berkebaya, bersanggul atau masak-memasak. Intinya kita harus berani dan bisa menjadi wanita yang selangkah lebih maju dari yang seharusnya. Tidak berkutat di satu sisi saja. Misalnya belajar bikin blog seperti ini. Kan bagus, bisa mengungkapkan uneg2 dan berbagi inspirasi. Atau kalau tidak, mulai mikir gimana caranya bisa bantu2 suami dengan bisnis lewat internet (Kok jadi mekar hidungku ya? Merasa tersanjung boleh2 saja kan? Apalagi kalau yang muji Ibu Kartini).

Aku : Wah, setuju atuh, Bu. Kemarin2 saya dan sebagian teman juga ada bikin FB. Ibu tahu, kan? Itu tuh...jaringan pertemanan yang sekarang lagi ngetop. Hanya saja karena lupa daratan, pada ngenet di kantor. Jadi di banned deh sama perusahaan. Padahal kan bagus juga ya, Bu? Paling tidak kita sudah punya banyak teman jika mau buka bisnis baru. Nggak perlu lagi susah2 cari pelanggan. 

Kartini: Loh....emang perusahaan sampeyan perusahaan kere ya? Masak karyawannya ngenet aja dilarang. Kalau ngenet jam istirahat masak nggak boleh juga? (Ibu Kartini memandangku dengan wajah terheran-terheran).

Aku : Nggak taulah Bu. Yang penting saya sudah puas bisa melakukan wawancara dengan Ibu. Biarpun nggak boleh ngenet ya nggak pa2 deh. Paling tidak saya jadi tahu apa visi dan misi Ibu sebenarnya. Terima kasih atas waktunya ya Ibu (cipika cipiki).

Kartini: Sama-sama. Semoga sukses sebagai wanita Indonesia yang berharkat dan bermartabat tinggi. Jangan lupakan saya kalau blognya sudah ngetop.

Itulah hasil wawancaraku dengan Ibu Kartini. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin kuajukan. Tapi karena kebanyakan pertanyaan ngaco, ya terpaksa ku stop sampai di sini. Lagipula waktu istirahat sudah abis...jadi harus siap2 untuk kerja lagi...

Akhirnya...Goodbye Ibu......thanks for everything I can learn from you. Hope there will be many women be a woman like you. Never give up to struggle.

KEN AROK

Ceritanya si Ken Arok lagi Pedekate sama Kendedes. Sayang seribu sayang Kendedes sudah bukan single woman lagi melainkan dah jadi istri orang lain. Tapi bukan Ken Arok namanya kalau nyerah gitu aja. Dengan ngeyel dia berusaha sebisa mungkin mendapatkan respon dari pujaan hatinya itu.

Suatu hari Ken Arok ngintip pertengkaran antara Mpu Gandring si pembuat keris dengan Tunggul Ametung suami Kendedes. Usut punya usut ternyata Sang Tunggul Ametung lagi uring2an karena keris pesenannya nggak jadi2. Lha wong sudah mau tahun baru lagi kok nggak jadi2. Piye toh? padahal dia pesen sudah pertengahan tahun yang lalu. Ini Mpu asli atau bukan seh? Ia menggerutu panjang lebar.

Sang pembuat keris yaitu Mpu Gandring tak kalah keras bersuara. Yang namanya keris pusaka itu ya mesti lama bikinnya. Selain harus ditempa dengan hati2 perlu juga dijampi-jampi. Jadi tidak sembarangan. Lha kalau mau cepet kenapa nggak pesen sama pandai besi saja? Toh sama saja keris namanya.

Sama2 nggak ada yang mau mengalah akhirnya terjadi pertengkaran hebat yang berujung pada perkelahian. Dengan nekad Tunggul Ametung menusukkan keris setengah jadi tadi kepada Mpu Gandring. Dan sekaratlah sang Mpu dibuatnya. Sebelum koit, sang mpu sempat mengucapkan kutukan serem:

"Dasar katrok. Gak sabaran banget seh! Nah, rasakan akibatnya. Keris yang kamu pakai membunuhku akan menuntut balas sampai tujuh turunan. Engkau dan orang2 yg dekat denganmu".

Trus bye bye deh si Mpu. Meninggal di tangan orang yang pesen keris padanya. Ironis banget, ya? Sudah nggak dibayar, nyawa pula jadi taruhan.

Sebenarnya agak keder juga Tunggul Ametung mendengar kutukan Mpu Gandring. Tapi dasar penguasa nggak tahu diri. Sok bener sendiri aja dia. Dengan pongah dan tanpa merasa bersalah ia pun pulang dengan membawa keris tersebut.

Balik lagi ke Ken Arok. Ternyata cintanya kepada Kendedes tidak bertepuk sebelah tangan. Sekali kedipan dibalas dua kedipan mata oleh pujaan hatinya. Dengan membayangkan kecantikan Kendedes saja dia sudah termehek-mehek dibuatnya, apalagi dengan terbalas cintanya. Meskipun ya...jelas2 Kendedes ada yang punya...namanya juga cintrong...yo lanjut sajalah.

Karena ngebet memiliki Kendedes, Ken Arok punya rencana untuk membunuh Tunggul Ametung. Sambil2 mengendap-endap karena takut ketahuan ia pun masuk ke kamar tidur bossnya itu. Eh, tak dinyana tak diduga, aksinya ketahuan juga. Terpaksalah, karena kepepet, ia terlibat perkelahian dengan Tunggul Ametung yang sekaligus adalah rivalnya. Wah, kesempatan nih, pikirnya. Kalau kubunuh pasti OK punya dong. Aku bisa segera mendapatkan wanita yang kuimpikan.

Singkat cerita, si Tunggul Ametung kalah keok dari Ken Arok. Gimana tidak? Dia yang kakek2 harus melawan orang muda. Kalah kuat dong. Lagipula ganteng2 gitu Ken Arok adalah ahli olah raga bela diri. Kalau nggak salah sih dia lulusan perguruan pencak silat MP. Dan ternyata kutukan Mpu Gandring benar adanya. Tunggul Ametung meninggal akibat ditusuk menggunakan keris yang dibikin oleh Mpu Gandring.

Dengan bangga hati Ken Arok melaporkan diri kepada Kendedes. Bukannya sedih karena suaminya mati, si doi malah terlihat sumringah (Enak dong dapat brondong.....!). Akhirnya sampailah mereka ke gerbang pernikahan, meskipun banyak yang menentang. Pernikahan pasangan selingkuh ini akhirnya terjadi juga. Atas nama cinta mereka menghalalkan segala cara.

Hanya saja karena pernikahan tersebut dasarnya sudah nggak bener, ujung2nya nggak berlangsung lama juga. Anusapati, anak Tunggul Ametung yang sudah curigesion sama Ken Arok diam2 mengadakan penyelidikan dengan bantuan detektif swasta. Setelah terkumpul bukti2 yang cukup, maka ia pun melabrak Ken Arok. Nah, ketahuan deh, kalau dulunya Ken Arok cuma selingkuhan ibunya. Bagaimana mungkin ibunya yang cantik jelita bisa kesengsem sama rakyat jelata yang asal-usulnya gak jelas ini?

Setelah bukti2 cukup ia pun membalaskan kematian bapaknya. Ken Arok menjadi korban ketiga dari keris Mpu Gandring sesuai dengan kutukan yang dijatuhkan atasnya (Nah, Ken Arok inilah yang dianggap sebagai cikal bakal berdirinya Kerajaan Singosari yang bekas2nya masih bisa dilihat di kota Malang. Kotaku gitu loh..).

Dari intrik2 terselubung dan dendam kesumat yang terjadi dalam keturunan Kendedes, yang berasal dari kubu Tunggul Ametung maupun Ken Arok, akhirnya terbentuk cikal bakal kerajaan Singosari. Kerajaan yang kemudian berkembang pesat ke seantero negeri. Kerajaan Singosari menjadi bukti bahwa : selingkuh itu bisa indah bisa tidak. Indah kalau nggak ketahuan. Nggak indah kalau ketahuan.

BTW ada yang inget nggak lagunya siapa sih ini? :....."Tak selamanya selingkuh itu indah"......
*  just joking biar ndak serius2 banget.....peace.....:))

INTERMEZO

Bentar lagi ada pemilihan ketua OSIS di sekolahku. Kabarnya sih kandidatnya ada tiga orang. Semuanya punya trik masing2 untuk menaklukkan hati seluruh penghuni sekolah guna memilihnya.

Kandidat pertama adalah R.A. Dewi Pertiwi Notosusanti Suhartowati anak IPS kelas 2. Kabarnya bapaknya tajir pisan and masih keturunan bangsawan (berdarah biru ngono loh...). Meskipun di kelas nggak pernah masuk sepuluh besar dianya pede aja lagi mencalonkan diri. Toh bapaknya bekas kepala sekolah dan penyumbang terbesar di sekolah ini. Sapa tau dengan membawa-bawa nama bapaknya dalam pidato pemilihan nanti banyak murid "diingatkan" betapa besar dan pentingnya arti bapaknya untuk sekolah ini.

Kandidat kedua adalah Si BeJo. Anak kelas 2 IPA yang otaknya encer. Biarpun berasal dari ndeso tapi banyak teman. Pertama karena keenceran otaknya. Kedua karena biarpun ndeso orangnya gaul men. Semua orang disapa ramah dan tidak pernah pelit membagikan kepintarannya. Yang menjagokan Bejo dah pasti teman2 satu kelasnya. Bejo's Fans....

Kandidat ketiga adalah si Jono Krempang. Anak kelas 2 IPS lain kelas dgn kandidat pertama. Yang ini berotak encer juga, tapi agak bermental mafia. Semua mua diitung berdasarkan untung rugi. Yang jelas ia menganut pepatah Time is money. Jadi apapun jadilah....yang penting menghasilkan uang. Ini banyak juga suporternya. Terutama tentu saja mereka2 yg biasa dapat cipratan dari bisnis kecil-kecilan laki2 muda ini.

Sebagai wartawan sekolah kelas teri aku tertarik dan terpanggil untuk melakukan wawancara dengan mereka sebelum berlaga di medan pertempuran. Pemilihan Ketua OSIS adalah event yang bergengsi di sekolah ini. Ini bukan masalah mau tak mau untuk mencalonkan diri, tapi masalah bisa atau tak bisa mimpin organisasi pelajar di sekolah ini. Nah, ini adalah sebagian hasil wawancara yang sudah diedit-edit dan disimpul2kan sendiri.....dan kubocorkan untuk kalian yang mau milih salah satu dari ketiga kandidat ini.

Aku : Jadi apa yang akan mbak atau mas2 lakukan jika terpilih menjadi ketua OSIS tahun ajaran ini?

Mbak Dewi : Begini. Kalo saya terpilih nanti, ndak usah kuatir...semua pasti akan saya gratisken. Pinjem buku di perpus gratis....pinjem aula untuk kegiatan sekolah gratis....pinjem apa saja di sekolah ini gratis....pinjem duitpun kalo saya punya kan saya kasih....asalkan ya gitu...jgn lupa bayar.....(sambil tersenyum maniiiiisss sekali kayak gula kacang...).

Aku : (garuk2 pala mode on)....loh bukannya semua emang dah gratis tuh???

Mbak Dewi : Iya....tapi kalo saya terpilih pasti ada gratis plus2nya lah...maksutnya semua fasilitas akan ditambahlah.....yang jelas akan menguntungkan murid2 yang tidak mampu....! LAgipula Bapak saya kan bekas KepSek di sini...pasti taulah apa yang dibutuhkan oleh mereka.

Mas BeJo : Wah, kalau saya sih yang rasional sajalah...! Akan saya bentuk tim belajar di tiap-tiap kelas dengan tutor yang berkompeten di bidangnya, yg diambil dari murid2 itu sendiri. Dengan demikian murid yg emang otaknya dari sononya sudah dodol bisa diperbaiki setahap demi setahap. Ingat....sekarang ini jamannya Ujian Nasional. Jika nggak di latih mulai sekarang bisa2 ndak lulus semua murid di sekolah kita ini.....!

Aku : Bagus juga idenya mas....(soalnya aku termasuk murid dgn kapasitas otak pas2an hehehehe...) )

Mas Jono : Pada dasarnya saya setuju dengan si BeJo. Hanya saja kita perlu memperhitungkan berapa rupiah yang akan kita hasilkan dgn sistem tersebut. Harus dihitung berapa modal yang kita keluarkan dan berapa kira2 keuntungan yg akan didapatkan. Semua harus diatur secara sistematis dan menghasilkan (dgn expresi bersemangat dan berapi-api).

Aku : (manggut2 sok ngerti dan paham).

Nah teman2, itulah sekilas bocoran yang bisa kubagikan tuk kalian. Semoga kalian bisa memilih dengan sebaik-baiknya. Kalau bisa sih manfaatin aja semua.....(abis...semua menguntungkan..he..he..he..)

Kalau aku sih....ini rahasia ya (bisik2 mode on) ....dah pasti aku milih si BeJo. Selain dia satu kampung sama aku....selama ini dia yang ngajarin aku bikin PeEr kalo otakku lagi tersumbat...! Dia yg mengajarkan aku untuk berani berdebat dan melamarkan diri jadi wartawan sekolah.....! Jadi ya piye ya.....dengan sukarela aku milih dia deh....! Bravo BeJo....!