Coretan Martina

"Bercerita dan berpuisi suka-suka...."

BIAR KUIKATKAN TALI SEPATUMU

(Minggu, 26 April 2009)Siang itu garing. Halaman depan gereja Katedral sudah mulai sepi. Ben tengah merunduk membetulkan tali sepatu ketika seseorang menabraknya dari belakang. Membuatnya hampir terjerambab karena kaget. Sekaligus membuatnya meringis kesakitan karena pinggangnya terantuk ujung sepatu. Dengan spontanitas kegeraman yang tinggi ia berbalik untuk mencari siapa yang menabraknya tadi.

”Aduuuh....maaf....maaf......nggak sengaja...., betul-betul tidak sengaja...!” seraut wajah tirus memandangnya penuh penyesalan. Matanya memandang Ben dengan tatapan menghiba. ”Aku tidak melihatmu tadi,” ia melanjutkan dengan suara terbata-bata. 

Tiba-tiba saja amarah Ben menguap entah kemana. Niat untuk mengganjar penabraknya dengan sumpah serapah terpaksa ditelannya mentah-mentah. Entah karena wajah tirus yang memelas di depannya itu. Atau karena suara lembut bernada permintaan maaf yang samar-samar sampai di telinganya.

Sepintas diperhatikannya sang penabrak. Seorang gadis biasa. Bertubuh kurus. Cenderung dekil dengan tampilannya yang agak aneh untuk gadis-gadis jaman sekarang. Jins ketat. Sepatu kets. Kaos oblong. Mengenakan jaket dan sebuah tas ransel tersandang di punggungnya. Komplit dengan topi biru bertuliskan Navy di kepala.

”Oh....tidak apa-apa!”Ben mencoba menahan diri. “Lain kali berhati-hatilah kalau berjalan,” ia menambahkan lagi. Tanpa menoleh ia bergegas pergi. Tak dipedulikannya gadis itu mengiringi langkahnya dengan tatap terima kasih karena tidak jadi kena damprat.

******

(Minggu, 30 Agustus 2009)Ben tengah menata ulang majalah dinding yang ada di depan koridor gereja ketika ia melihat gadis itu lagi. Tetap dengan penampilan ala cowboy. Tapi sudah tidak terlalu dekil. Maksudnya sekarang terlihat lebih fresh dan bersih. Kaos oblongnya sudah berganti dengan blus sederhana warna biru. Jins ketatnya masih sama seperti yang dulu. Lengkap dengan sepatu kets yang dulu pernah mampir di tulang rusuknya. Kelihatannya ia sedang sibuk berbincang serius dengan Romo Bowo. Sesekali wajahnya yang tirus tersipu saat Romo Bowo mengatakan sesuatu.

Ben jadi penasaran. Apa sih yang mereka bicarakan? Mengapa harus tersipu-sipu seperti itu? Ada hubungan apa gadis itu dengan Romo Bowo? Mengapa mereka tidak berbincang di ruang tamu pastoran? Mengapa harus berbincang sambil berdiri di depan teras seperti itu? Dan berjuta pertanyaan lain yang tiba-tiba bergelayutan di kepala Ben.

Ha!! Mengapa aku jadi sibuk memikirkannya? Apa urusanku? Sejak kapan aku musti menaruh perhatian pada gadis nggak ”normal” seperti itu? Diam-diam Ben mentertawakan dirinya sendiri.

”Ben......! Sini......!” dilihatnya Romo Bowo melambaikan tangan ke arahnya.

”Saya, Romo?” ia menunjuk dadanya. Memastikan sekali lagi siapa yang dipanggil.

Iyo....kamu.... sini.....!” pastor Bowo tersenyum memamerkan deretan giginya yang kecoklatan kebanyakan nikotin.

”Ada apa, Mo?” ia datang mendekat.

“Kenalkan... ini Didin. Keponakan saya yang tinggal di Malang. Dia lagi mengerjakan satu proyek mengenai marjinalitas. Kamu bantu ya?”, Romo Bowo memandangnya dengan penuh harap. Ia seolah paham betul bahwa Ben tidak akan menolak permintaannya.

”Ben”

”Didin”

Keduanya berjabat tangan. Ben dengan rasa penasaran yang mendalam. Didin dengan wajah tirus dan senyum misteriusnya. Keduanya tersenyum samar. Terpaksa tidak....tulus juga tidak. Pura-pura acuh tapi butuh. Mirip sinetron-sinetron kejar tayang yang muncul tiap sore di TV.

”Bantuan macam mana yang Romo minta?” Ben mencoba mengalihkan perhatian. Dipandangnya Romo Bowo dan gadis itu berganti-ganti. ”Saya tidak terlalu paham dengan masalah itu, Mo”.

”Ah, gampang itu. Kamu tinggal menunjukkan pada Didin siapa-siapa saja yang bisa dihubungi dalam mengerjakan tugasnya. Ada Romo Dedi.....ada Romo Alfred......semuanya berkecimpung dengan urusan yang serba marjin-marjin ngono. Dalam arti kerja mereka itu tidak jauh-jauh dari ngurusi anak-anak gelandangan dan kaum miskin di kolong jembatan. Bukankah kamu yang biasa runtang-runtung dengan mereka?” Romo Bowo menambahkan lagi.

”O ya...oke....baiklah Mo....! Kapan saya bisa mulai?” Ben menatap wajah romo parokinya itu.

”Sewaktu-waktu tentunya. Didin pasti nggak nolak........!” Romo Bowo melirik gadis aneh di sebelahnya itu. ”Kalian atur sendirilah waktunya,” ia menambahkan lagi. Dengan sigap ditinggalkannya sepasang sejoli yang sedang salting itu di beranda gereja. Dan mereka tetap saja diam tanpa sepatah kata sampai romo Bowo memanggil keduanya untuk masuk ke dalam pastoran menikmati makan siang.

******

Itu adalah awal perkenalannya dengan Didin. Gadis unik yang menurutnya aneh. Aneh karena dia tidaklah seperti gadis-gadis yang selama ini dikenalnya. Unik karena tanpa perlu berusaha menarik perhatian lawan jenis ia bisa membuat mereka menoleh padanya. Padahal ia biasa-biasa saja. Cenderung kurus dengan tulang pipi menonjol. Wajahnya tirus. Bibirnya tanpa polesan apapun. Bedaknyapun tipis-tipis saja terlihat. Itupun kalau pakai bedak. Kalau tidak ya jangan diharap. Pakaiannya pun tak jauh-jauh dari T-Shirt dan jins belel. Betul-betul bukan tipe gadis impian. Hanya saja pada saat dia tersenyum dan tertawa dia bisa membuat orang lain balik tersenyum dan ikutan tertawa. Seperti magnet. Menghipnotis. Menghangatkan hati siapapun yang memandangnya. Ia sungguh gadis biasa-biasa saja yang sungguh luar biasa.

Sebenarnya dengan gelar S1 Psikologi ia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Tapi panggilan hati memintanya untuk total dalam pelayanan kaum marjinal. Ditinggalkannya segala kemapanan di tempat kerja sebelumnya. Serius dan ingin fokus dalam usahanya membela kaum miskin dan terlantar. Apalagi yang bisa diperbuatnya sebagai seorang manusia, selain melakukan sesuatu bagi orang lain selagi masih hidup?

Ben sungguh terkesan. Betul-betul terkesan. Tanpa disadari ia pun larut dalam rasa itu. Perasaan nyaman ketika berdekatan dengan seseorang. Perasaan ingin menyayang dan disayang oleh seseorang. Perasaan yang terkadang membuatnya sakit tatkala luapannya tidak mendapatkan tempat. Bisa jadi ini adalah cinta. Bisa jadi juga ini adalah kamuflase. Ben tidak yakin sekaligus tidak mengerti. Adakah ini saat yang tepat untuk menyatakan dan memahami arti sebuah cinta? 

*****

(Minggu, 27 September 2009)Ben memandang Didin yang tengah sibuk membetulkan tali sepatunya. Tangannya bersendakap di dada dan senyum tipis tersungging di bibirnya. Sungguh aneh rasanya. Ia yang rapi, modis, berpenampilan kelimis dan selalu ingin tampil sempurna bisa berteman sedemikian dekat dengan keponakan Romo Bowo. Seorang gadis aneh, dengan senyum misterius yang menyejukkan.

Tidak ada yang menyangka keduanya bisa seakur itu. Bahkan Romo Bowo pun tidak. Yang beliau tahu sejauh ini proyek keponakan tersayangnya itu mengalami kemajuan pesat. Dan Ben adalah mahkluk yang patut dilimpahi rasa terima kasih. Ben yang membantu Didin untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Impian seorang manusia muda dan idealis. Impian yang belum tentu dimiliki oleh gadis-gadis lain seusianya. 

Impian untuk berkecimpung di dunia marjinal seringkali keras dan menyakitkan. Banyak segi menyedihkan daripada menyenangkan. Sungguh suatu perjuangan penuh beban. Bahkan kenyataan seringkali tidak sesuai dengan harapan. Mulai dari memberikan konseling gratis, mencarikan orangtua asuh bagi yang masih sekolah, menggalang dana lewat dunia maya, berkoordinasi dengan beberapa donatur tetap yang tidak mau dipublikasikan namanya dan lain sebagainya. Semua perkerjaan yang nampaknya kecil dan tak berarti. Tapi sungguh menguras emosi dan tenaga.

Ben membetulkan posisi duduknya. Sekali lagi dipandangnya gadis yang selama sebulan ini menemani (ditemani ?) hari-harinya. Tetap manis. Tidak berubah. Tetap “pede” meskipun tanpa polesan make up di wajahnya. Rambut pendeknya meriap-riap seperti tidak pernah tersentuh sisir. Dengan santai dan tutur kata lembut ia menjelaskan beberapa nama anak jalanan yang perlu mendapat bantuan segera. Ia berhenti sejenak ketika tidak didapatnya respon dari Ben yang tengah sibuk mengamatinya.

What’s wrong? Ada yang aneh?” Didin menatap matanya lekat.

”Oh, eh, nggak...nggak ada....!” Ben hanya tersenyum simpul. ”Lucu saja melihatmu dari tadi sibuk mondar-mandir kayak setrikaan. Sebentar cas cisu cus...sebentar membetulkan tali sepatu....!”

Didin tersenyum. Wajah tirusnya tampak sumringah mendengar jawaban Ben. Tali sepatunya memang suka lepas-lepas dengan sendirinya. Resiko menggunakan sepatu kets. Bila tidak kuat ikatannya ia akan lepas dan terinjak-injak sepatu sebelahnya tanpa sengaja.

So?” ia bertanya lagi. ”Apa yang mesti kulakukan?”

Ben menggamit lengan gadis itu. Dituntunnya ke sebuah bangku di beranda pastoran tempat ia dan Didin biasa berdiskusi.

”Sini, nona manis. Duduklah baik-baik. Giliran aku yang harus berbicara padamu sekarang!” ia berkata dengan nada sungguh-sungguh.

Didin manut saja diseret-seret seperti itu. Matanya yang teduh memandang Ben penuh tanya. Menanti jawaban untuk sebuah sikap yang tidak seperti biasanya.

”Dengar, Nona. Aku tidak tahu apakah ini tepat atau tidak waktunya. Yang jelas aku merasa, aku harus mengatakannya padamu. Sebelum dadaku meletus dan jantungku lepas dari cangkoknya,” Ben berusaha keras mengatur nada bicaranya. ”Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku mencintaimu. Tak peduli apakah kau sudah punya belahan jiwa atau belum. Tak peduli kau mencintaiku atau tidak. Tak peduli kau menerima cintaku atau bahkan menolak dan meludahiku. Paling tidak ijinkan aku mendiami sebagian hatimu. Supaya kalau tali sepatumu copot, aku bisa memasangkannya lagi untukmu”.

Gadis itu terperangah. Wajahnya pucat pasi. Tak menyangka bahwa Ben akan menodongnya seperti itu. Tapi hanya sebentar. Sepersekian detik kemudian ia sudah bisa tertawa. Mentertawakan keadaan yang terjadi saat itu. Di antara dirinya dan Ben.

”Jadi apa jawabmu, Nona?” Ben melanjutkan pertanyaannya.

”Aku? Jawaban apa yang kau inginkan dariku?” gadis itu tersipu. ”Kalau kau serius ingin mengikatkan tali sepatuku, dengan senang hati aku mengijinkannya,” ia menambahkan dengan senyuman lebar.

”Sungguh? Jadi? Engkau menerimaku?” Ben hampir terlonjak karena girang. Digenggamnya tangan gadis itu erat. Terasa dingin namun mengalirkan kehangatan. 

”Tentu saja aku menerimamu. Betapa bodohnya aku seandainya membiarkanmu berlalu dari hidupku. Apapun itu, aku percaya bahwa Tuhan yang telah mengirimkan engkau padaku. Engkau memang belum menjadi belahan jiwaku. Namun kita akan belajar bersama untuk menjadi satu jiwa,” gadis itu menambahkan lagi dengan tenang.

”Kalau begitu, ...biar kuikatkan tali sepatumu......sekaligus kuikatkan hatiku di hatimu.........!”

0 komentar: