Coretan Martina

"Bercerita dan berpuisi suka-suka...."

JUMINTEN

Pagi yang kelabu. Di luar angin kencang berhembus dan mendung bergantung layu. Juminten sedang sibuk menghitung urut-urutan tanggal di kalender lusuh yang tengah dipegangnya. Nah ini dia! Minggu, Senin, Selasa. Libur 3 hari. Lumayan, bisa istirahat aku nanti, ia menggumam tanpa suara. Berharap dalam setangkup doa panjang, semoga majikannya memberinya libur saat tanggal di kalender bertinta merah tahun ini. 

Hari itu, dengan hati gundah gulana, Juminten menyelesaikan pekerjaannya. Bagaimana tidak gundah? Ini lebaran kesekian ia harus duduk manis di rumah majikannya. Tidak bisa kemana-mana. Padahal tahun ini ia sangat berharap bisa merayakan lebaran di kampung. Bersama kang Tarjo suaminya, dan kedua anak lelakinya. 

Ia membayangkan, seperti tahun-tahun sebelumnya, pasti ia akan menjadi sapi perahan. Seperti budak belian. Ternista. Terhina. Sebuah harga yang pantas diterima oleh seorang pembantu. Di tanah rantau ini, siapa yang bisa diharapkan menjadi dewa penolong? Tidak ada. Harapan dan kenyataan seringkali tak sama. Majikannya bukanlah tipe orang penuh kasih sayang, yang menghargai harkat dan martabat seorang manusia. Itu sebabnya ia sudah menggantung asa sebelum berani mengatakan kemauannya.

Berhari-hari Juminten hanya mampu terpekur. Tinggal seminggu lagi dan sepatah katapun ia belum berani mengungkapkan isi hatinya kepada sang majikan. Kalau pun nekat, pasti kena pecat. Di mana lagi ia bisa mendapatkan pekerjaan dalam usianya yang tengah merambah tua? Kalau ia tidak bekerja, siapa yang akan membayar biaya sekolah kedua anaknya? Siapa pula yang akan membayar biaya makan sehari-hari keluarga kecilnya?

Terbayang di benaknya, betapa kang Tarjo sudah tidak bisa diharapkan lagi. Semenjak kena PHK dari perusahaan beberapa tahun yang lalu ia malah kena stroke. Lumpuh. Tidak bisa mengerjakan apapun untuk keluarga kecil mereka. Jangankan untuk mencari nafkah, bangun dari tempat tidur saja susah. Selama ditinggal, kedua anak lelakinyalah yang mengurus bapaknya. Jadi mau tidak mau, Juminten tetap bertahan dengan pekerjaannya, meskipun ia sendiri harus menderita.

*
Malam itu udara terasa gerah. Juminten gelisah tidak bisa memejamkan mata. Angannya melayang pada kampung halaman yang masih menjadi sekedar mimpi-mimpi. Harapan untuk bertemu sanak saudara di hari nan fitri nanti masihlah sebatas harapan yang tak pasti. Ah, Tuhan, akankah semua terus begini?

Tiba-tiba.....! 

"Kebakaraaan........kebakaraaan.......! Ayo....ayo..... cepet keluar........!"Juminten mendengar teriakan-teriakan itu. Teriakan yang seolah-olah menjadi pemicunya untuk segera bergegas berlari menyelamatkan diri. 

Dengan panik ia keluar kamarnya. Api sudah berkobar kemana-mana. Dari lantai atas, ia mendengar teriakan 2 anak majikannya. Lea dan Levi. Juminten di tengah dilema. Di satu sisi ia punya kesempatan menyelamatkan diri sendiri. Di sisi lain ia tidak tega mendengar jeritan minta tolong dua anak asuhannya itu.
Dengan sigap dan cekatan, tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, Juminten berlari menaiki tangga dan secepat mungkin membuka pintu kamar. Beruntung pintu tidak dikunci. Dengan tangan kiri menggendong Lea yang masih balita, tangan kanannya menyeret Levi yang usianya lebih tua. Juminten berjuang mati-matian menyelamatkan nyawa anak majikannya. Tidak diingatnya lagi kejahatan sang majikan selama ini. Yang ada di kepalanya ialah bagaimana caranya supaya mereka bisa keluar dengan selamat.

Entah bagaimana caranya, Juminten dan kedua anak majikannya akhirnya bisa diselamatkan. Hanya keajaiban yang membuatnya mereka bisa keluar dari kobaran api. Meskipun tubuhnya terluka akibat terbakar, namun Juminten masih bisa tersenyum melihat anak asuhannya bisa selamat, sebelum dia akhirnya tak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit untuk perawatan.

Polisi menyimpulkan penyebab kebakaran berasal dari konsleting arus pendek. Majikan perempuannya tewas mengenaskan di kamar mandi. Majikan lelakinya selamat karena saat kejadian ia malah tertidur di sofa. Jadi sempat melarikan diri. Hanya saja ia lupa untuk membangunkan istrinya. Bahkan dua anaknya pun ia lupakan. Untung rumah diasuransikan. Jadi bisa berharap mendapatkan ganti. 

Setelah dinyatakan sehat oleh dokter Juminten pun sudah boleh pulang. Majikan yang dahulu begitu kejam, berubah drastis penuh penghargaan dan penghormatan terhadap dirinya. Berkat Juminten kedua anaknya selamat tanpa cacat. Dengan permohonan maaf yang tulus, ia mengijinkan Juminten untuk pulang kampung. Sewaktu-waktu ia juga boleh kembali ke rumah majikannya. Semua biaya ditanggung oleh majikannya.

Akhirnya, Juminten percaya, bahwa pepatah yang mengatakan "Gusti mboten sare (Tuhan tidak tidur) " itu benar adanya. Apapun caranya, untuk orang yang percaya pada Tuhan, semua akan dibukakan. Semua akan menjadi indah pada waktunya.

0 komentar: