Coretan Martina

"Bercerita dan berpuisi suka-suka...."

LARON

Bermimpi dalam pelukan malam atau siang apa bedanya? Intinya bukan pada waktunya tapi lebih kepada apa yang bisa kau ceritakan tentang mimpi-mimpimu. Jika mimpi adalah bunga tidur, mengapa terkadang ia tak lagi wangi? Bahkan mengulangnya pun orang tak lagi mau.

Aku bertemu laron. Mata hitamnya memandangku dengan dingin. Sayapnya kurus terkepak seperti dalam posisi siaga. Ia berkacak pinggang dan dengan tegak menghadang langkahku. Sepertinya ada bara api yang menyala dari kedua bola matanya dan memancarkan kebencian berkobar-kobar.

Aku menggigil. Tubuhku basah oleh peluh. Ingin kusembunyikan mataku dari tatap matanya yang kelam. Tapi aku tak bisa. Tak ada tempat untuk bersembunyi. Kakiku terasa berat untuk berlari. Hanya desah nafasku terengah seperti tertindih beban berat. Degup jantungku terasa sampai ke ubun-ubun. Detaknya berpacu seirama aliran adrenalin yang memompa darahku lebih cepat dari biasanya. Wahai laron, salah apakah aku padamu? Mengapa kau pancarkan dendam kesumat tak bernama itu tanpa kutahu apa salahku?

Laron adalah makhluk mungil bersayap kurus yang terlihat seiring datangnya musim hujan. Biasanya ia muncul pada saat udara lembab dan basah sesudah hujan turun mengguyur bumi. Ia muncul begitu saja dari dalam tanah. Sore hari atau pagi hari ketika embun baru saja menampakkan wujudnya. Selalu beramai-ramai dengan teman-temannya. Senada seirama melewati waktu riang saat banyak anak-anak ramai mengerumuni sarangnya dan melihat mereka keluar berbondong-bondong. Sesampainya di luar, ada yang langsung terbang mengudara. Tapi ada juga yang terpaku diam di atas tanah. Bingung hendak melakukan apa.

Selayaknya anak-anak, aku sangat antusias menyambut datangnya laron. Selayaknya anak-anak pula aku suka mengejar-ngejar laron itu dan memasukkannya ke dalam botol supaya mereka tidak bisa lari kemana-mana. Tidak ada rasa bersalah. Apalagi rasa berdosa. Memandang geliat mereka di dalam botol berusaha mencari jalan keluar tidak juga mengusik nurani kanak-kanakku. Yang ada hanya rasa gembira, hati riang berbuncah-buncah. 

Terkadang tangan-tangan kecilku usil mencabut sayap mereka satu-persatu. Membuat mereka gundul dan terlihat tak berdaya. Tanpa sayap mereka hanya bisa tertatih terseok mencari jalan pulang. Bahkan meski jalan itu tidak mampu mereka temukan mereka tetap merayap. Perlahan tapi pasti, mereka seolah ingin kabur dan melarikan diri dari jemari nakal manusia-manusia kecil ini, yang belum tahu, bahkan tidak tahu membedakan mana rasa sakit dan rasa senang.
Seandainya aku tahu penderitaan laron-laron itu......!
~
Malam itu menjadi malam penuh petaka bagiku. Laron yang paling besar menutup pintu keluar dengan sayapnya yang paling besar. Sayap raksasa yang baru pertama kali kulihat. Laron kecil lainnya mengepungku dengan gigi berderik-derik. Sama dengan sang pimpinan mata mereka memancarkan bara. Seolah-olah mereka membawa luka dari cerita lalu yang tak pernah bisa kami selesaikan antara aku dan mereka.

Tidak kusangka di alam mimpi mereka akan menjadi sebesar itu. Bila biasanya mereka yang lari terbirit menghindarkan diri dari sergapanku maka sekarang aku yang berusaha mengecilkan wajah supaya tidak bisa dikenali. Peluh membuncah dari dahi dan sekujur tubuhku. Hatiku mengkerut. Ciut nyali. Kekejaman ala kanak-kanak menguap entah kemana. Suaraku seolah tercekat di tenggorokan. 

Kupanggil ayah. Kupanggil ibuku. Mereka tak kunjung datang. Bahkan suaranya pun tiada kudengar. Di manakah engkau ayah? Di manakah engkau ibu? Mengapa kalian biarkan aku sendirian mengais keberanian? Laron-laron itu membuatku takut.

”Ma....ma..mau ap..apa kalian....?”tergagap aku melontarkan tanya. Pimpinan mereka hanya diam. Sedetik kemudian suaranya menggelegar memekakkan gendang telinga.

”Wahai manusia. Sejak kecil sudah belajar keangkuhan. Itu sebabnya ketika besar menjadi angkuh betulan!” ia memekik dengan suara nyaring. ”Aku ingin memberimu pelajaran!” kali ini diiringi sura geraman tertahan.
Nyaliku semakin ciut. Terpojok di sudut kamar sembari menunggu datangnya pertolongan. Tapi pertolongan itu tak pernah ada. Sementara para laron itu semakin terlihat beringas.

”Ap...apa salahku?” tanyaku mendesau bersama suara angin lalu yang berhembus diam-diam di sela-sela jendela kamar.

”Ha??? Engkau masih berani bertanya apa salahmu? Engkau yang biasa menganiaya kami dalam derita tak berkesudahan masih bisa bertanya apa salahku? Ingatkah kamu bahwa setiap kau cabut sehelai saja sayap yang kami miliki, lukanya menganga melebihi luka bernanah para dewata?”

”Maafkan aku, tapi aku sungguh tidak mengerti apa maksud kalian!” mata kanak-kanakku mencoba memandang mereka dalam kepolosan kanak-kanak tak terucap.

”Wahai manusia. Tidakkah engkau tahu, bahwa meskipun kami kecil, kami ini hidup. Sama seperti engkau, kami juga mencintai hidup kami. Engkau manusia kecil, pernahkah kau rasakan indahnya menikmati hangatnya sinar mentari pagi? Pernahkah kau rasakan ketika kami mendapat kesempatan untuk membahagiakan diri sendiri dan tiba-tiba saja itu dirampas dari kami? Engkau dan teman-teman kecilmu itu sungguh menjadi monster di atas hidup kami. Engkau dan teman-teman kecilmu itu....apakah engkau tidak pernah belajar untuk membagikan kasih?” sang pimpinan bertanya lebih dalam lagi.

Aku terpekur. Mencoba memahami apa yang dia katakan meskipun terlalu sulit dicerna oleh pikiran kanak-kanakku. Ingatanku melayang tentang hari-hari sesudah turun hujan yang membahagiakan. Hari-hari berburu laron dan menjadikan mereka sebagai hiburan yang mengasyikkan. Apakah salah mempermainkan binatang yang tidak bisa bercakap-cakap seperti manusia?

”Maafkan aku....! Sungguh aku tidak tahu kalau kalian juga bisa merasakan sakit. Sungguh aku tidak tahu kalau kalian juga bisa merasakan teraniaya. Sungguh....aku tidak tahu........!” air mataku memburai bercampur dalam kubangan ketakutan. Kesadaran akan adanya mahkluk lain selain manusia yang bisa merasakan kesakitan membuat hatiku seperti tertusuk sembilu. Perih dan dikuasai rasa penyesalan yang sangat dalam.

Laron itu menatapku lekat. Bias beringasnya memuai melihatku luluh dalam penyesalan. Matanya tak lagi menyakitkan untuk kupandang. Sayapnyapun tak lagi membentang menutup pintu kamar. Ia seperti mengerti bahwa aku sungguh menyesal atas apa yang telah kulakukan. 

Perlahan tapi pasti mereka beringsut menjauh. Satu-persatu mereka terbang melalui jendela kamar di kegelapan malam. Kepekatan menelan mereka satu-persatu sampai akhirnya tidak bersisa sama sekali. Meninggalkan aku yang ternganga dalam keheningan tanpa teman.

Sejak malam mengerikan bersama para laron, aku belajar tentang satu hal : Jangan pernah membiarkan angkara merusak indahnya hari-harimu. Cintailah para mahkluk ciptaan Tuhan seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Jika demikian adanya, maka hanya damai sejahtera yang patut kau peroleh sebagai hadiah.

2 komentar:

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Bahasanya benar-benar mengalir, kisah yang bagus.
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

 

Terima kasih....lagi senang ngimpi.... :)