Coretan Martina

"Bercerita dan berpuisi suka-suka...."

LONTONG

Ini cerita tentang lontong. Lontong adalah makanan terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun pisang. Setelah dikukus maka berubah bentuklah ia menjadi makanan padat, kenyal dan sering dipakai sebagai pengganti nasi untuk lauk dan sayur tertentu. Cocoknya sih dimakan dengan opor ayam atau gulai nangka muda. Itu pengertian lontong di Jawa. 

Nah, di Batam lain lagi ceritanya. Lontong adalah nama lain dari PSK (Pekerja Seks Komersial) atau kupu2 malam. Jadi kalau Anda dapat kesempatan jalan2 atau bahkan tinggal di Batam, jangan coba2 membicarakan masalah lontong ini sembarangan atau di tempat2 umum yang sudah pasti bisa dengan gampang diketahui oleh banyak orang. Jika Anda nekat melakukan hal itu, siap2 saja dipelototi oleh banyak orang yang penasaran dengan tingkah pola Anda atau jika ada yang merasa jadi bagian dari "lontong" ini, dengan sukarela mereka akan menimpuk kepala Anda dengan apa saja yang bisa ditimpukkan ke kepala Anda tentunya (^=^).

*****

Pada suatu hari karena keperluan tertentu aku dan seorang kawan sepakat pergi ke pusat kota dengan menggunakan taksi. Seperti kebanyakan turis lokal lainnya, kami tetap menggunakan bahasa kampung sehari-hari, meskipun kami berada di sebuah pulau metropolis yang notabene berada sangat dekat dengan negara tetangga, Singapura. Pokok bahasan adalah mengenai lontong, yang rencananya akan dibuat untuk acara seremonial antar teman sekampung keesokan harinya.

"Dadi, sopo sidone sing kudu nggawe lontong?" 

Sopir taksinya langsung spontan melongok dari kaca spion. Dengan rasa penasaran diintipnya wajah kami satu persatu.

"Yo arek2 sing iso masak, tah! Gak mungkin aku!" aku menjawab pertanyaan temanku. 

Sang sopir taksi makin penasaran. Dengan hati2 akhirnya dia ikutan nimbrung,"Jadi...mbak2 ini lontong?"

"Ha??? Lontong??? Ya jelas bukanlah.....sudah jelas kalau kami ini manusia!" aku dan kawanku serentak menjawab.

"Lha iya...saya juga tahu kalau mbak2 ini manusia.....!" si sopir meringis melihatkan gigi coklatnya yang kehitaman karena nikotin. "Profesinya maksudnya....!" ia menambahkan.

"Ooo...nggak Pak....kami bukan penjual lontong!" dengan cepat aku menjawab. Sementara temanku terkikik-kikik tanpa bisa ditahan.

"Waduh...gimana sih ini. Tadi mbak2 sendiri yang bilang kan?" si sopir menyambung lagi.

"Jadi bapak dari Jawa juga? Maksud saya kok mengerti bahasa kami tadi?" temanku mencoba bertanya dengan gaya sok tahu.

"Bukan mbak. Saya dari Sumatera. Saya nebak2 saja.....yang saya tangkap dengan jelas ya lontongnya itu. Kalau di Batam itu memang profesi yang menjanjikan mbak," tanpa diminta si sopir menjelaskan panjang lebar.

"Profesi yang menjanjikan?" aku dan temanku semakin bingung.

"Jadi mbak2 nggak tahu maksud saya?"

"Nggak...!" serempak kami berdua menggeleng.

"Ooooo....pantesan! Lontong itu sama dengan PSK, mbak. Di sini banyak. Biasa, tempat singgah orang asing!" si sopir menjelaskan lagi sambil senyum2.

"Jadi???"

"Ya maaf deh kalau saya mikirnya begitu tadi. Kirain mbak2 kerjaannya emang lontong!" tanpa rasa bersalah ia meminta maaf.

Aku dan teman sekampungku itu, dengan tergesa turun dari taksi dan cepat2 kabur meninggalkan sopir taksi yang kurang ajar itu. Dengan masih senyum2 bercampur dongkol, kami berdua saling memandang penampilan satu sama lain diikuti dengan tawa terkekeh yang tak kunjung putus. Gara2 lontong kami jadi sial. 

Sejak saat itu, kami selalu berbahasa Indonesia di mana pun berada, meskipun jalan bersama orang sekampung. Biar orang nggak salah paham lagi. Tengsin juga kan dikira "lontong"? Untung bukan dikira germo....wah...bisa rusak dunia persilatan....hehehe

******

So my friends, ingat2....! Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Ati2 di tempat orang, belum tentu sama dgn tempat kita.

# Batam, 21 Jan'10

0 komentar: