Coretan Martina

"Bercerita dan berpuisi suka-suka...."

MAHKLUK MANIS MATA SIPIT

Di antara teman-teman seumuran, dalam urusan asmara aku termasuk ketinggalan jaman. Kuper. Nggak gaul. Dingin. Introvert. Somsek. Pemilih. De el el. Dan seabrek julukan aneh lainnya. Padahal perasaan aku nggak segitu-gitunya juga. Mataku toh masih ijo kalau lihat ada manusia, cowok tentunya, yang bentuknya indah dan sedap dipandang. Hanya saja memang nggak ada chemistry. Biasa saja. Selalu begitu.

Sampai suatu hari aku bertemu makhluk manis itu. Tinggi menjulang, berkulit kuning, bermata sipit, berwajah oriental. Dia tersenyum ramah waktu seorang teman memperkenalkan kami. Warga baru rupanya. Kerja di perusahaan Jepang. Cocok. Aku membatin dalam hati. Maksudku dia memang seperti orang Jepang. ’Wong Jepang yang pinter boso Jowo dan wong Jowo yang sedikit banyak bisa bahasa Jepang’. Jadi cocok kalau kerja di perusahaan Jepang.

"Rien"

"Tomo"

Perkenalan yang biasa saja. Seperti yang lain. Hanya saja melihat teman-teman begitu antusias berbincang dan cari-cari perhatian aku jadi penasaran juga. Hmm.....senyumnya manis memang. Apalagi kalau pas tertawa. Mirip Jen Ta Hua aktor idolaku. Maklum. Biasa nonton film kungfu. 

Aku mulai curi-curi pandang. Lumayan juga. Dengan postur tubuh seistimewa itu pantas kalau banyak gadis-gadis histeris di dekatnya. Kecuali aku mungkin. Bagaimana tidak. Dari pertama ketemu, sampai ketemu-ketemu lagi yang berikutnya, aku beraninya cuman curi-curi pandang. Selebihnya pura-pura nggak butuh. Acuh-acuh butuh iya. Ceileee....malu-maluin bener sih? Padahal kalau dianya ngajak ngomong aku grogi juga. Apalagi ngomongnya sambil senyum...! Alamak.....mak nyuuuss rasanya.

Alhasil sejak kenal si Bung (hanya aku yang panggil dia si Bung) aku jadi sinting. Serba salah. Mau cuek salah, mau baik juga dilema. Masalahnya nggak enak sama teman-teman yang lain. Teman-teman cewek tentunya. Mereka yang ganjen kok aku yang ditempelin terus. Sepertinya amazing banget gitu. Ada deretan bidadari cantik yang antri menunggu untuk diajak kencan kok malah ngajak si itik buruk rupa. Aneh kan? Alasannya klise banget. Karena cuman aku teman satu daerah yang bisa dimengerti bahasanya. Cuman aku yang bisa diajak hahahihi olehnya tanpa jaim-jaiman. Dan sialnya lagi aku tidak pernah bisa memberikan penolakan.

Senyumnya seperti magnet. Saat dia tersenyum mata sipitnya ikutan tersenyum. Membuatku tak kuasa menolak. Menemaninya ke gereja. Menemaninya makan di luar sesudah gajian. Ikut retret gereja, nonton bioskop, de el el. Dia jadi seperti anak bebek yang ngekor induknya. Kemana-mana mau ditemani. Padahal kan aku juga punya kegiatan sendiri. Punya duniaku sendiri. Dan kalau dipikir-pikir, hubungan kami adalah sebentuk hubungan yang serba tidak jelas. Mencintai belum tentu, membutuhkan sudah pasti. Samar dan tidak tersentuh.

Si Bung tidak pernah tahu kalau perutku mules menahan stress setiap mengiyakan ajakannya. Tertekan dengan perasaanku sendiri. Sungguh aku jadi galau. Apakah benar ini malaikat kedua yang dikirimkan Tuhan untukku? Kalau ya kenapa aku jadi nervous dan merasa tidak nyaman di dekatnya? Ia seperti mentari yang terlalu tinggi untuk kugapai. Dan terlalu panas untuk kugenggam. Bahkan dalam mimpipun aku takut terbakar. Parno dengan segala macam pemikiran yang belum tentu terjadi. Berasumsi sendiri. Berangan-angan sendiri.

Jujur saja sejak awal kenal si Bung aku sudah nggak PeDe. Dengan postur tubuh dan penampilannya yang menawan ia bisa jadi idola gadis-gadis. Nggak susah baginya untuk nempel dengan gadis manapun juga. Berbalik seratus delapan puluh derajad dengan penampilanku. Slenge’an dan semau gue. Mirip seniman jalanan kata ibuku dulu. Perempuan kok gak kayak perempuan. Ngejins dan kaos oblongan melulu. Mirip perempuan nggak mirip preman iya.

Jadi perlahan tapi pasti aku mulai menghindari si Bung. Dengan segala macam cara aku mencoba bersembunyi darinya. Menyedihkan memang. Tapi aku tidak mau seperti punguk merindukan bulan. Siapa tahu ia memang bukan orang yang tepat untukku. Berkali-kali aku tahu dia coba menghubungiku. Tidak ketemu di gereja dia cari ke rumah. Sementara aku kukuh menyembunyikan diri. Menyebalkan banget harus sembunyi-sembunyi dari orang yang kita sukai. Suka? Sebenarnya masih menjadi tanda tanya. Meskipun pada dasarnya aku juga memang menyukainya.

Sampai akhirnya aku menyerah. Aku datang waktu ia terbaring lemah di rumah sakit. Sakit kuning akut. Seperti aku dulu. Wajahnya yang pucat pasi menyunggingkan senyuman waktu melihatku. Ia tidak nampak seperti si Bung yang kukenal. Pipinya tirus dan tampangnya menyedihkan. Bagaimanapun juga sangat tidak enak dirawat di rumah sakit saat jauh dari orangtua. Jadi aku mengiyakan saja waktu mas Herman sahabat baiknya memaksaku untuk datang menjenguknya.

Dalam kelemahan raganya ia masih mencoba untuk menyambutku. Digenggamnya tanganku. ”Mengapa kamu menghilang?” ia bertanya dengan nada pahit. Matanya yang lucu seolah mau membunuhku. Senyumnya tak lagi manis karena menuntut jawaban. Padahal aku lagi sibuk menghilangkan rasa grogi karena seluruh mata otomatis tertuju pada kami.

”Aku sibuk!” sambil tersenyum kualihkan pembicaraan. Dengan tetap bercanda aku membantunya makan. Sebisa mungkin kuhindari menatap matanya. Aku tidak sanggup. Bagaimana mungkin aku bisa sepintar ini berbohong? Sementara kata orang mata kita tidak akan pernah bisa menyajikan kebohongan. ”Aku banyak kerjaan! Bulan-bulan terakhir ini kami harus kerja lembur,” aku melanjutkan. Jawabanku seperti mengambang. Tidak meyakinkan. Tawakupun terdengar sumbang. 

Teman-teman keluar ruangan diam-diam. Bisa jadi mereka mau memberiku kesempatan untuk menyelesaikan masalahku dengan si Bung. Secara garis besar mereka bisa menebak-nebak bahwa ada apa-apanya antara aku dan si Bung. Karena dari akrab tiba-tiba saja aku seperti mengambil jarak.

”Pertanyaanku belum dijawab,” ia menampik sendok makan yang kusuapkan dengan halus. Matanya tetap menuntut jawaban. ”Mengapa kamu menghilang? Tanpa kata, tanpa pesan......?” 

Aku beranikan diri menatap matanya. Kurasa aku harus mengatakan sesuatu. Lebih baik daripada tidak sama sekali : "Aku mau kita tidak pernah bertemu lagi. Aku mau pertemanan kita selesai sampai di sini. Sebelum semuanya terlambat. Kupikir selama ini aku telah menemukan orang yang tepat. Ternyata aku salah. Aku belum siap untuk mencintai dan dicintai. Aku hanya ingin sendiri." 

Makhluk manis bermata sipit itu tercenung. Tangannya mendadak dingin dalam genggaman. Diusapnya kepalaku dengan rasa sayang tak tersembunyikan. Menguji keseriusanku. Terlepas sudah semua beban. Aku sudah mengatakannya. Entah itu menyakiti hatinya atau tidak. Karena ternyata kusadari hatiku ikut perih. 

Dalam diam kulepas genggaman tangannya. Dalam diam pula aku mohon supaya Tuhan mengampuniku! Bukan maksudku untuk membuatnya terluka. Bukan. Aku hanya ingin sendiri dulu. Sesungguhnya aku belum siap berbagi rasa dengan orang lain. Biarlah ini menjadi kesedihan bagi kami berdua. Biarlah ini menjadi kenangan manis, yang akan tersimpan rapi di dada. Aku yakin, akan mudah baginya melupakan si itik buruk rupa ini dan menggantinya dengan beribu bidadari yang lebih siap dalam segala hal. Kalau jodoh takkan lari kemana. Iya, kan?

(Kenangan lama tentangmu. Where are you now?)