Coretan Martina

"Bercerita dan berpuisi suka-suka...."

PILIHAN

Rin memandang jari manis  tangan kirinya.  Sebentuk cincin emas polos tanpa hiasan melingkar di sana.  Dielusnya perlahan.  Tanpa terasa setitik air mata jatuh menetes di pipinya.  "Apakah ini masih perlu?" ia membatin dalam kediaman.  Helaan nafas panjang yang keluar dari bibirnya seolah menunjukkan pergumulan batin yang sungguh mendalam. Matanya setengah memejam.  Ingatannya perlahan menggelincir ke jejak perjalanan dua tahun  silam.

***

Hari itu Al melamarnya.  Begitu tiba-tiba.  Begitu mengejutkan.  Begitu tak disangka-sangka.  Membuatnya hampir pingsan.  Jangankan dilamar, membayangkan dilamar saja Rin tidak pernah.  Bahkan oleh Al sekalipun.  Kekasih yang yang telah dipacarinya selama bertahun-tahun.  Kekasih yang baginya lebih dari sekedar pasangan untuk berbagi rasa.  Al adalah lelaki yang dicintainya untuk pertama dan berharap untuk terakhir kali.

Al memang belum mengajak keluarganya untuk melamar secara resmi.  Itu hanyalah spontanitas seorang Al belaka.  Tapi tetap saja membuat jantung Rin berdebar kencang saat Al menyematkan sebentuk cincin emas polos di jari manisnya. Ia hanya bisa mengangguk tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata.  Saat itu ia dan Al  sedang berada di sebuah boat yang tengah melaju di atas lautan.  Mereka tengah mengurusi sebuah event kepemudaan berskala besar di daerahnya.  Karena wilayah tempat tinggal mereka yang berupa kepulauan, mau tak mau mayoritas transportasi dilakukan lewat jalur laut.

Karena terlalu syok Rin bahkan tidak sempat bertanya bagaimana mungkin Al sempat membeli cincin pertunangan dan melamarnya dalam situasi yang serba tidak tepat itu.  Di atas boat yang tengah melaju kencang. Sungguh bukan suatu lamaran yang bisa dibilang romantis.  Ia hanya bisa menggenggam tangan Al kuat-kuat.  Senyum manisnya menjadi sebuah jawaban dari hubungan percintaan mereka selama ini.  Ia percaya bahwa Al adalah jodoh yang memang disediakan Tuhan untuknya.

Perjalanan laut yang mereka tempuh pada mulanya berjalan dengan aman dan lancar.  Hingga akhirnya tiba-tiba laut berubah menjadi petaka.  Secara mendadak mendung hitam datang menggantung.  Suara angin membadai di antara percikan hujan yang mulai turun satu persatu.  Semakin lama semakin menderai bercampur dengan gemuruh halilintar di kaki langit.  Jarak ke pulau yang mereka tuju sebenarnya sudah tidak terlalu jauh lagi.  Tapi hempasan demi hempasan gelombang membuat laju boat seolah tersendat.

Seluruh penumpang boat mulai dilanda panik.  Tanpa sadar mereka saling berpegangan tangan dan mendaraskan doa-doa semoga tidak terjadi apa-apa.  Al mendekap Rin erat-erat.  Feelingnya mengatakan bahwa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.  Dan .....brakkk.....!!!  Rin merasa tubuhnya terlempar keluar.  Tiba-tiba saja semua menjadi gelap baginya.

Rin tidak ingat apa-apa lagi.   Ketika sadar ia sudah terbaring lemah di salah satu kamar rumah sakit di kotanya.   Kedua orangtuanya berdiri cemas di sekelilingnya. 

"Ayah......Ibu......di mana aku?" ia merintih kesakitan.  Matanya mancari-cari di sekeliling ruangan. "Mana Al?"

"Al baik-baik saja, Nak!  Ia sedang dalam proses penyembuhan.  Jadi ia tidak bisa menjengukmu di sini!" ibunya menjelaskan dengan nada tertahan.  Kata-katanya tercampur isak tangis yang disembunyikan.

Rin tersenyum puas.  Ia lega mendengar bahwa Al selamat dari kecelakaan maut di laut itu.  Ia pun segera tertidur pulas.  Pengaruh dari obat penenang yang diberikan dokter kepadanya.

Setelah itu barulah semuanya jelas.  Dari sepuluh orang yang ikut dalam rombongan hanya empat yang selamat.  Enam lagi dinyatakan hilang termasuk Al.  Boat yang mereka tumpangi menabrak karang pada saat badai datang.  Rin dan tiga orang lainnya tak disangka-sangka dihempaskan  ombak ke pinggir pantai.  Mereka terdampar dan ditemukan oleh beberapa nelayan yang pada saat itu akan mengamankan perahu  dari amukan badai. Setelah itu Rin sempat pingsan selama beberapa hari.

Rin tergugu.  Air matanya seperti tak pernah berhenti mengalir.  Ia merasa tak sanggup kehilangan Al.  Ia merasa tak sanggup harus mengarungi hidup ini sendirian tanpa pendampingan dari Al.  Semua bayangan tentang Al tak bisa lekang dari pelupuk mata dan pikirannya.  Suaranya, senyumnya, gelak tawanya, perhatiannya, rasa kemanusiaannya terhadap orang lain, dan sebagainya.  Rin merasa seolah hidup sudah selesai baginya. 

********

Sejak hari itu Rin mulai menutup diri terhadap segala macam kegiatan yang bisa mengingatkannya pada Al.  Ia menutup diri terhadap siapa saja termasuk teman-temannya.  Ia mulai menciptakan dunianya sendiri.  Dunia yang serba tertutup.  Dunia yang berwajah suram dan penuh dengan kesedihan.  Dunia yang mampu menenggelamkannya pada suatu kedalaman tanpa makna dan membuatnya lupa akan kenangan-kenangan manis bersama Al.  Rin benar-benar berubah seratus delapan puluh derajad.

Sampai suatu hari ia bertemu dengan mahkluk itu.  Sesosok makhluk jangkung yang mengingatkankannya pada Al.  Pastor Dodit yang mengenalkan padanya.  Tanpa ekspresi ia menyambut perkenalan singkat itu.  Bahkan ketika makhluk itu memberikan senyum termanisnya.  Rin seperti mati rasa.  Secara kebetulan mereka berada dalam satu tim untuk pembinaan kaum muda di gereja.  Pastor Dodit memintanya untuk membantu Hans meskipun untuk itu beliau harus berusaha keras merayunya.  Dengan berbagai cara akhirnya beliau bisa membuat Rin keluar dari sangkar yang dibangunnya.

Sejak itu waktu seolah berusaha selalu mempertemukan mereka.  Ide tentang usaha memajukan kaum muda membuat mereka harus sering bersama.  Perlahan tapi pasti, Rin mulai kembali menjalani hari-harinya seperti saat lampau. Kecintaannya akan kaum muda membuatnya bangkit dari masa lalunya.  Mulai melupakan rasa sakitnya.  Sedikit banyak ia juga sudah bisa memberikan penilaian terhadap partner kerjanya.

Diam-diam Rin memandang laki-laki itu.  Laki-laki yang tengah mempresentasikan bagaimana caranya supaya kaum muda mencintai Gereja apa adanya.  Mencintai tanpa pamrih tanpa ada embel-embel di belakangnya.  Dengan rasa cinta yang tulus, maka akan banyak kaum muda yang dengan sukarela akan melakukan banyak hal untuk perkembangan Gereja.  Dan dengan rasa cinta pula, maka keyakinan akan iman, pengharapan dan cinta akan bisa dipupuk dan dikembangkan.  Semuanya harus dimulai dari adanya keinginan tiap-tiap individu untuk mau melakukan sesuatu.

Tidak banyak orang muda seperti Hans.  Dengan pekerjaan yang sudah mapan dan banyak waktu tersita di tempat kerja seharusnya ia bisa duduk ongkang-ongkang kaki di rumah seusai melakukan pekerjaannya.  Tidak perlu bersusah payah memikirkan orang lain.  Tidak perlu menghabiskan waktu untuk sesuatu yang bisa jadi tidak menghasilkan keuntungan buatnya.  Tapi Hans melakukannya.  Melakukan sesuatu yang sudah pasti akan dilakukan juga oleh Al seandainya ia masih hidup.

"Hai!  Melamun.....?!" Hans berbisik sembari menjawil tangannya.  Membuat Rin tergagap malu.  Tertangkap basah sedang melamunkan masa silam.  Rin bahkan tidak sadar presentasi sudah selesai dan peserta rapat sudah mulai membahas permasalahan satu demi satu.  Tanpa sadar setitik air mata jatuh di pipinya.

Diam-diam ia melangkah keluar ruangan.  Di datanginya gua Maria di sudut halaman gereja.  Bisa jadi dengan mengadu pada Bunda semuanya akan menjadi lebih ringan.  Biar dia bisa memulai hari barunya dengan lebih tenang.  Biar dia bisa melupakan semua kenangan manis bersama Al tanpa beban.  Tanpa suara ia mendaraskan doa-doa.  Untuk Al di manapun ia berada.  Untuk orangtuanya.  Untuk dirinya sendiri.  Untuk masa depan yang ingin dimulainya dari awal.

"Tuhan akan mendengarkan doa-doa yang dipanjatkan dari kedalaman hati!  Ia tahu apa yang terbaik untuk umat yang dikasihiNya"  suara bariton itu mengagetkannya.  Ia menoleh.  Dilihatnya Hans tengah berlutut di belakangnya.  Tangannya terkatup sembari menatapnya dalam diam.  Sorot matanya tulus. Setulus perkataan yang baru saja ia ucapkan.  Rin tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menerjemahkan apa arti kata-kata itu. 

Rin tersenyum.  Tanpa sadar dielusnya cincin yang pernah diberikan Al kepadanya.  Ia tidak perlu membuangnya.  Sekarang ia tahu bahwa Tuhan tidak pernah melupakannya.  Akan selalu ada Al Al yang lain di sekitarnya.  Al yang disediakan Tuhan untuknya.  Al yang diyakininya hidup dalam sesosok makhluk manis lainnya.  Dan kali ini ia yakin, Tuhan sudah menjawab doa-doanya.  Ia sudah melihatnya dalam diri Hans yang dengan setia menemaninya beberapa waktu terakhir ini.

Jalan Tuhan.....bukan jalanku.....tapi tetap langkahku maju......kuyakin Tuhan jadikan semua.....indah pada waktunya....

0 komentar: