Coretan Martina

"Bercerita dan berpuisi suka-suka...."

RENJANA

"Meinar?!!"

Seruan itu spontan membuatku menoleh.  Refleks kepalaku berputar ke arah suara yang memanggil namaku.  Seorang perempuan muda dengan penampilan charming sedang memandangiku dengan rasa penasaran yang tak tersembunyikan.  Aku terpaku.  Otakku berpikir keras.  Siapa ya?

"Mei!  Meinar, kan? Ini aku, Dana!  Lupa, ya?"

Perempuan muda itu   langsung memberondongku dengan pertanyaan.  Dana?  Seingatku hanya ada satu Dana yang kukenal.  Dana Indira teman satu kelasku di SMA, sekaligus adik dari Doni Indradi, lelaki yang pernah kukenal dulu.  Hampir sepuluh tahun kami tidak pernah berjumpa.  Pantas saja aku tidak mengenalnya.  Dia begitu anggun dan cantik sekali.  Sementara Dana yang dulu begitu tomboi dan tidak padat berisi seperti sekarang ini.

"Dana?!  Apa kabar?" aku terlonjak kegirangan.  Kupeluk dia erat-erat.  Kuguncang-guncang bahunya dengan rasa tak percaya.  Ia pun demikian.  Tangannya sibuk menarik-narik pipiku yang dari dulu katanya lentur kayak karet.  Kami saling menatap.  Tersenyum.  Tertawa.  Akhirnya, setelah beberapa hari berada di kampung halaman aku menemukan seorang teman.  Teman lama.  Sahabat dari masa lampau. 

Seperti anak-anak kami saling bergandengan tangan.  Berbelok begitu saja ke sebuah gerai makanan di dalam pusat perbelanjaan di mana kami bertemu saat itu.  Perasaan senang tidak tersembunyikan dari mata kami masing-masing.  Sambil menikmati minuman dan makanan ringan pikiran kami mengembara ke masa silam.

******
Hari itu Dana menjemputku.  Tidak seperti biasa, bukan Pak Mus yang mengantarnya pagi itu.  Sesosok makhluk asing duduk di belakang kemudi.  Setahuku Dana tidak punya saudara laki-laki.  Jadi aku tidak terlalu peduli ketika makhluk itu hanya memandangku sepintas lalu.  Pasti ia sopir sementara pengganti Pak Mus.  Buktinya ia tidak merespon sama sekali ketika kuucapkan selamat pagi.

Sepanjang jalan Dana sibuk berceloteh seperti biasa.  Ia memang tidak pernah kehabisan kata-kata.  Sedangkan aku tidak pernah kehabisan energi untuk tertawa mendengar celotehannya.  Apapun yang dia katakan selalu membuatku tertawa.  Tidak tahu kenapa.  Yang jelas desakan untuk tertawa dan bergembira itu selalu ada.  Spontan dan lepas begitu saja.

"Oya, hampir lupa.....kenalin...ini Doni.  Kakak tersayangku yang sudah lama tidak pulang!  Sejak kecil ia tinggal dengan nenek kakekku di kampung!" Dana menyela di sela ceritanya. "Ini Meinar, si Badung yang sering kuceritakan itu!" katanya ganti ke Doni.

"Badung??!" aku terbelalak ke arah Dana.  Dengan enggan kuanggukkan kepala sebagai anda salam kepada si sopir "gadungan".  Sialan betul si Dana.  Masak aku dibilang badung, sih?  Aku melotot galak ke arahnya.

"Nggak usah melotot begitu!  Kamu lucu kalau melotot.  Mirip mata laron!" Dana melanjutkan dengan terkekeh.  Tidak dipedulikannya mulutku yang mendadak manyun.  Dia terus berceloteh ini itu kepada kakaknya.  Sesekali ia mengganggu aku dengan ledekan-ledekan yang bisa bikin sakit telinga.  Entah setan darimana pula yang membuatku tiba-tiba sakit tenggorokan.  Mendadak diam seribu bahasa.  Tidak berkomentar sedikitpun mendengar celotehan dari mulutnya.

"Hei!  Melamun!  Ayo turun!" seru Dana seraya melompat dari mobil.  Rupanya kami sudah sampai di sekolah.  Dengan lincah ia melompat turun.  Sembarangan saja seperti biasanya.  Sama seperti aku.  Hanya saja bedanya kali ini aku turun diam-diam.  Tidak seberisik seperti kalau sopirnya Pak Mus. 

"Makasih!" lirih aku menyampaikan kata kepada lelaki di belakang kemudi.  Ia mengangguk tanpa ekspresi.  Tanpa ba bi bu lagi, aku langsung lari mengejar Dana yang sudah kabur duluan ke dalam kelas.

Sebagai murid yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja, aku termasuk beruntung bisa diterima di salah satu sekolah elit di kota kami.  Hanya saja bagiku, bersekolah di sekolah favorit merupakan suatu kebanggaan sekaligus beban.  Di satu sisi aku harus berteman dengan banyak orang dari berbagai kalangan, di sisi lain aku harus sadar bahwa aku tidak bisa seheboh mereka dalam berpenampilan.  Itu sebabnya aku berusaha keras mendapatkan hasil terbaik di bidang akademis.  Minimal, dengan penampilan yang biasa-biasa saja, orang bisa melihat bahwa otakku tidak biasa-biasa saja.

Jadi aku bersyukur bisa memiliki Dana sebagai sahabat.  Aku percaya bahwa Tuhan telah mengatur semuanya untukku.  Dana dengan segala kemewahan dan fasilitas yang dimilikinya, menjatuhkan pilihan kepadaku sebagai seorang sahabat.  Hanya karena ia hobi bercerita dan aku hobi tertawa.  Ia seperti mendapatkan penampungan yang tepat untuk mendengarkan keluh kesahnya.  Mendengarkan cerita dan pandangan hidup yang keluar dari mulutnya.  Menurutku kami memang dipertemukan  untuk saling mengisi dan berbagi.

Sejak itu aku jadi sering bertemu Doni.  Minimal dalam satu minggu ia sempatkan dua tiga kali mengantar Dana pergi sekolah dan otomatis menjemputku di rumah.  Meskipun demikian ia tetap sediam patung.  Belum pernah sepatah kata pun keluar dari mulutnya.  Merasa ia tidak pernah ramah , aku juga tidak pernah berbagi keramahan.  Takut dibilang berlebihan.  Yang lebih parah lagi, takut dibilang kegenitan.  Biar sajalah.  Toh aku tidak ada urusan apapun dengannya kecuali harus satu mobil beberapa kali dalam seminggu. 

Kata Dana kakaknya kuliah di sebuah universitas negeri terkemuka.  Jurusan Teknik Mesin.  Jarak dari sekolahku dan tempatnya kuliah memang lumayan jauh.  Itu sebabnya kadang-kadang saja ia bisa menjemput dan mengantar kami ke sekolah.  Sisanya aku dan Dana lebih suka menghabiskan waktu naik angkutan kota.

Suatu hari, lelaki itu menjemputku di rumah.  Tanpa Dana.  Aku yang sudah menunggu di depan rumah jadi kikuk.  Kemana pula Dana?  Tega banget dia membiarkan kakak tercintanya menjemputku.  Seharusnya aku tidak perlu dijemput.  Aku masih bisa jalan kaki atau naik angkot jika ia tidak masuk. 

Ragu aku melangkah.  Canggung dan malu. Tanganku sibuk memilin-milin tali tas tanpa sebab. Aku masih berdiri tak pasti ketika lelaki  itu menegurku,"Cepat masuk!  Mau sekolah, tidak?"

"Dana mana?" aku celingukan.

"Dana sakit!" penjelasannya singkat.

"Sakit apa?" aku masih juga bertanya.

"Aduh....bawel amat sih?!  Ayo naik!  Dia sakit bulanan!" kali ini terdengar kasar dan tidak enak untuk didengar.

Mendengar suaranya yang ketus aku jadi terpancing. Emosi jiwa.  "Maaf, seharusnya kamu tidak perlu menjemputku!  Aku bisa berangkat sendiri, kok!" aku balas menjawab. Bergegas kulangkahkan kaki menjauh.

"Eh, eh, heiii.....!  Jangan main kabur-kabur saja.  Dana yang menyuruhku menjemputmu!" ia meneriaki aku.

"Bilang pada Dana, aku tidak mau dijemput kecuali ada dia.  Titik!"  Aku balas berteriak.

Dengan sigap aku menyetop angkot.  Tidak kupedulikan  tatap mata banyak orang yang keheranan melihat tingkah laku kami.  Wajahku terasa panas.  Kurasa aku betul-betul marah.  Dadaku seolah mau meletup.  Memangnya dia siapa?  Apa kalau dia kakak Dana aku harus menyembah-nyembahnya supaya ia berlaku ramah padaku?  Enak saja! Tidak akan kubiarkan seorangpun berlaku ketus padaku tanpa alasan.  Termasuk lelaki menyebalkan itu.  Bah!

Sorenya Dana menelepon.  Bukannya bersimpati ia malah terbahak ketika mulutku nyerocos menceritakan tingkah laku kakaknya.

"Jadi, kau tinggalin si Doni begitu saja?"

"Lha iyalah....emang siapa mau semobil dengan lelaki menyebalkan seperti itu?   Ramah juga enggak, ketus malah iya!" dengan keki aku menyahut.

"Pantesan mukanya kusut masai kulihat!  Rupanya habis kau semprot dia!" Dana terkekeh-kekeh.  Membuatku tambah sebel.  Adik kakak sama saja.

"Bilang sama dia, jangan sok kegantengan jadi orang.  Boleh-boleh saja otak encer, tapi etika juga harus dijaga!" aku nyerocos lagi.

"Oke, Ndan!  Akan disampaikan!  Siappp....grakk...!  Tapi....ngemeng-ngemeng....dia memang ganteng, kan?"kudengar Dana menggodaku sambil masih cengengesan.

"Danaaa.......!" 

Telpon ditutup.

*****

"Apa kabarmu, Mei?"  Dana menatapku.  "Lihat! Engkau sungguh tidak berubah sama sekali,"sekali lagi dipandangnya aku dengan takjub.  Seperti memandang keajaiban. 

"Engkau yang berubah!  Lihat, penampilanmu....ck..ck..ck....feminax banget.....!"aku memujinya dengan tulus.  Sungguh berbanding terbalik dengan penampilanku saat ini.

"Engkau tinggal di mana sekarang?  Aku kehilangan alamatmu.  Setiap orang yang kutanya tentang dirimu selalu menjawab tidak tahu.  Sepuluh tahun, Mei!  Sepuluh tahun!  Dan engkau menghilang begitu saja dari kehidupanku.  Dari kehidupan kami!" Dana setengah mengeluh.

Kami?  Siapa kami?

"Panjang ceritanya, Na!  Sebuah perjalanan yang cukup rumit dan berliku.  Tapi secara keseluruhan aku menikmati perjalanan itu.  Berpetualang mencari hakikat diri di sebuah pulau kecil di seberang lautan sana!" aku setengah berfilsafat.  "Kebetulan ibuku sakit.  Jadi aku pulang.  Dan...inilah aku....taraaa....!!"aku menggenggam tangannya erat.  Senyumku lebar menyeringai.

"Doni begitu menderita sejak kepergianmu....," ia menambahkan lagi.  Wajah yang sebelumnya berbunga berubah keruh.  Mendung menggelayut di wajahnya yang ayu.

Ada yang tiba-tiba terasa perih di dada.  Sungguh, aku tidak ingin menyinggung nama itu lagi.  Sejak bertahun lalu, aku telah bertekad untuk mengakhiri semuanya.

*****

Lelaki itu menungguku di depan  sekolah.  Wajahnya terlihat tegang.  Aku pura-pura tidak melihatnya.  Dengan santai aku berjalan melewatinya.

"Hei...!  Mata Laron...tunggu!!" tiba-tiba ia mencekal tanganku.  Setengah memaksa ditariknya tanganku ke tepi.

"Lepaskan tanganku!" aku memberontak.  "Lagipula apa hakmu mengganti-ganti namaku?  Namaku bukan Mata Laron, tau...?!" aku meradang.  Mataku menyipit garang.

" Iya, aku tahu!  Tapi matamu memang mirip laron kalau lagi marah!  Lucu!" ia tersenyum tipis.

"Maaf ya, Tuan!  Engkau boleh-boleh saja mengaku sebagai kakak dari sahabatku.  Tapi jangan dipikir semua orang akan bisa diperlakukan seenaknya!" aku menambahkan.  Tanganku bersedekap ke dada untuk meredakan amarah.

"Aku minta maaf!  Aku....aku memang terlalu kasar padamu.  Tapi sebenarnya aku tidak seperti itu...!" ia terbata. "Aku sungguh minta maaf jika telah membuatmu tersinggung.  Lagipula kata Dana, engkau bukan tipe pemarah?!" ia menambahkan lagi.

"Oke!  Jadi sekarang apa maumu?" aku menantangnya.  "Aku sudah memaafkanmu.  Jadi biarkan aku lewat dan biarkan aku pulang dengan damai!"

"Engkau belum memaafkan aku!" ia menahan langkahku.  Tubuhnya tinggi menjulang menutup cela di mana aku bisa lewat.  Harum nafasnya menyeruak sampai ke ubun-ubun.  Jarak kami hanya beberapa senti saja.  Hampir bisa kudengar detak jantungnya di telingaku.  "Engkau tidak tulus menerima permintaan maafku.  Mata laronmu masih menyiratkan amarah!" ia menyengkeram lenganku.

Kepalaku setengah terdongak.  Mataku lurus menatap matanya.  Ternyata dari dekat  ia lumayan tampan.  Tidak ada jerawat atau bisul menghiasi wajahnya.  Apalagi bekas luka.  Alis matanya lebat dan matanya setajam  elang.  Aku baru sadar kata-kata Dana selama ini : kakaknya emang ganteng, gila!!

Dengan jengah aku melepaskan diri dari cengkeramannya.  Lirih kukatakan sekali lagi aku sudah memaafkannya.  Kali ini dengan senyum lebar.  Berharap ia segera pergi dari hadapanku dan aku bisa meredakan perasaan yang tiba-tiba berkecamuk tak tentu arah. 

Tapi ia tak kunjung pergi.  Dengan sigap ditariknya tanganku dan disuruhnya masuk ke dalam mobil.

"Temani aku makan!"

"Tapi......!"

"Ssstt.....Mata Laron.....aku lapar!"

Dan aku menjadi seperti perempuan yang terhipnotis mulai saat itu.  Mula-mula menemaninya makan.  Selanjutnya, menemani hari-harinya yang tak berkesudahan.  Ia mampu menciptakan langit biru untukku.  Dan aku bisa memberinya wangi kembang.  Hari-hari kami serasa kebahagiaan semata.

*****

"Apa kabar Doni, Na?" aku menyeruput milo panas di hadapanku.  Tanpa dapat ditahan hatiku tiba-tiba mengalirkan darah.  Sakit rasanya.

Dana tercenung mendengar pertanyaanku.  Binar di matanya mendadak redup seketika.  Perlahan air mata menetes dari pelupuk matanya yang indah.  Sepertinya ia ingin berbicara banyak hal.

"Sejak engkau memutuskan untuk pergi jauh, ia seperti kehilangan arah!  Hidupnya kacau!  Kuliahnya apalagi.  Ia sempat mengambil cuti panjang sebelum akhirnya dengan susah payah menyelesaikan semuanya.  Hari-harinya hanya diisi dengan kongkow-kongkow di bengkel teater tempat kita biasanya ngumpul dulu.  Engkau masih ingat kan tempat favorit di mana kita dulu suka nongkrong sampai pagi?"  Dana menyisirkan jemari di rambut lebatnya.

Tentu saja  aku ingat.  Bagaimana bisa aku melupakan padepokan tempat kami para pencinta teater biasa kumpul-kumpul?  Padepokan yang menjadi salah satu tempat favorit kami bertiga, aku, Dana dan Doni.

"Tapi bukankah dia yang menginginkan jalan demikian?" aku setengah menangis.  "Bukan aku yang berselingkuh dengan orang lain!  Jika belahan jiwaku berselingkuh, itu haknya.  Yang jelas, itu pasti bukan aku!" aku menghela nafas kuat-kuat.

"Aku tahu dia salah, Mei.  Dia khilaf.  Lagipula bukan dia yang memulainya.  Beberapa waktu setelah kau pergi, aku baru tahu kalau dia dijebak.  Leoni sengaja mengajaknya pergi ke villa papa untuk menghancurkan hubungan kalian.  Sudah lama ia naksir Doni tapi tidak pernah mendapat tanggapan," Dana menceritakan flashback masa lalu kami.

"Tidak apa, Na!  Aku tahu engkau sangat mencintai kakakmu.  Engkau pasti akan membelanya mati-matian.  Dalam hal ini aku juga salah karena terlalu mempercayainya," aku mendesah lagi. 

Ingatanku kembali merekam saat memalukan ketika kutemukan Doni sedang mencium mesra teman kuliahnya di villa milik papanya.  Hari itu aku menyusulnya ke sana karena mendapatkan pesan dari seseorang untuk pergi ke villa secepatnya.  Penting katanya.

"Bukan, Mei!  Engkau salah!  Sebenarnya bukan Doni yang mengirim pesan padamu.  Bukan juga aku!  Tapi Leoni.  Dia sengaja ingin menunjukkan padamu bahwa Doni ada hati dengannya.  Dia sengaja melakukannya ketika engkau masuk ke villa.  Dia sudah mengatur semuanya".

"Tapi dia begitu menikmatinya," lirih kugumamkan suara.  Tidak enak berdebat tentang masa lalu yang menyedihkan dengan sahabat sendiri.

"Aku mencarimu kemana-mana.  Keluargamu tidak pernah mau memberitahu kemana engkau pergi.  Mereka seolah bersengkongkol menyembunyikanmu.  Sementara kakakku seperti layang-layang putus kehilangan haluan.  Terus terang  aku berdoa, jika cinta itu ada, aku ingin Tuhan mengembalikanmu padanya," Dana menggenggam tanganku erat.  Darinya aku tahu bahwa sejak saat itu Doni tidak pernah mencari pengganti diriku.

Mataku terasa panas.  Dadaku sesak.  Apakah bisa kurangkai pecahan kaca hanya dengan kata cinta?  Apakah mampu kusembuhkan luka hanya dengan melupakan masa lalu?

***

Sore gerimis.  Perlahan aku masuk ke padepokan.  Suasananya masih seperti dulu.  Asri dan teduh.  Beberapa anak muda  tampak sibuk berlatih menghapal dialog.  Beberapa yang lainnya sibuk bercengkerama di bawah pohon trembesi tua yang sampai hari ini masih setia tertanam di tengah halaman.

Aku menemukannya.  Seorang lelaki yang sudah tidak muda lagi.  Tapi tubuhnya masih tinggi menjulang.  Dan alisnya masih setebal alis dalam lukisan.  Ia tengah sibuk berbincang masalah koreografi untuk sebuah sendratari.  Perlahan aku mendekati ajang diskusi dalam posisi berdiri itu.

"Meinar?!" kudengar sapaan mas Dimas.  Hanya dia yang tidak pernah lupa mengenali bagaimanapun penampilanku.  Dengan wajah sumringah dan tawa membahana ia menghampiri dan merangkul bahuku.  Mengacak-acak rambutku seperti dulu.  Membuat semua kepala di dalam ruangan itu menoleh ke arahku.

"Hai semua....!  Ini Meinar.  Penghuni lama dulu!  Itu Doni, Mei! Pergilah!" mas Dimas mendorong punggungku dengan lembut.  "Selesaikanlah semuanya!" ia berbisik di telingaku sambil lalu.

Lelaki itu terpaku manatapku.  Matanya tajam menikam.  Perlahan dibereskannya peralatan yang berserakan di sekitarnya.  Bibirnya terkatup dalam diam.  Tanpa suara ia mengacuhkanku begitu saja.

"Hai!" aku mendekatinya.  "Boleh aku duduk di sini?"

Dia tidak menjawab.  Tersenyumpun tidak.  Terus terang ia membuatku takut.  Luka itu terasa nyata di matanya.  Dan bilur-bilurnya terlihat di setiap langkah kakinya.  Tapi di atas semua itu, bukankah aku yang seharusnya terluka?

Kami duduk berdampingan di tepi danau dekat padepokan.  Angin sore sisa gerimis terasa mengilukan tulang.  Aku menggigil.  Rasanya sudah lama sekali aku tidak pulang sehingga tidak kuat menampung udara dingin yang dulu biasa kuhirup setiap hari.

"Dana yang menyuruhku ke sini!" aku berusaha membuka percakapan.  Kulirik wajah kaku di sebelahku.  Ia sedang sibuk menggigit-gigit rumput tanda gelisah.

"Untuk apa?" suara itu terdengar garing.

"Untuk menemuimu dan mengajakmu pulang!" aku tidak kalah gelisah darinya.

"Aku tidak mau pulang.  Untuk apa aku pulang?  Aku sudah tidak punya tujuan.  Bintangku sudah lama hilang," matanya menerawang jauh.  Diambilnya beberapa butir batu dan dilemparkannya ke tengah danau.

"Sebenarnya aku tidak mau ke sini.  Aku tidak mau GR dan berpikir engkau masih mengharapkan aku.  Tapi jika aku yang menyebabkan engkau seperti ini, tolong, maafkan aku!" aku terisak tanpa suara.  Dengan susah payah aku berusaha tegar.  Namun butiran air mata terus berjatuhan ketika kulihat lelaki yang dulu terkasih menjadi seperti ini.

Lelaki itu terdiam.  Rasa penyesalan jelas terpancar di matanya.  Diraihnya pundakku.  Sepenuh rasa ia merengkuhku dalam dekapan dadanya yang bidang.  Dihapusnya air mataku dengan usapan tangannya.

"Jangan menagis, Mei!  Aku yang seharusnya minta maaf!  Kesalahanku jelas tak termaafkan! Betapa bodohnya aku!" ia mengerang.  "Maukah engkau memaafkan aku?"

Entah aku yang bodoh atau cinta yang memang buta.  Dengan segala cerita yang menyakitkan di masa lalu, aku mengangguk begitu saja.  Sudah lama dia kehilangan bintang dan aku kehilangan harapan.  Jadi apa salahnya kami mulai dari awal lagi. 

Aku percaya, bahwa hari esok akan jadi lebih baik dari hari ini.

0 komentar: