Coretan Martina

"Bercerita dan berpuisi suka-suka...."

SENYAP

Lelaki renta itu terbaring di atas dipan.  Raga tipisnya terbentuk dalam tonjolan tulang-belulang yang menyanggahnya dalam diam.  Matanya sayu menatap samar di dalam kamar seukuran dua kali tiga.  Terkadang memejam lama seolah menahan lara.  Lelaki itu seperti terjebak dalam kubangan derita tanpa akhir.  Sebuah derita karena masih boleh merasakan banyak hal dalam kelemahan raga yang hanya bisa terbaring tanpa daya.  Ia teringat pada anak2nya yang sudah lama menghilang dari ingatannya.

Ia punya beberapa anak dan tak seorang pun ada di dekatnya pada saat usia senja.  Ada yang di luar kota.  Ada yang di seberang pulau.  Memang masih ada beberapa yang masih satu kota.  Tapi baginya sama saja.  Semua terasa jauh.  Betul-betul jauh. Tidak bisa diharap.  Semua punya kesibukan dan kegiatan masing-masing. Semua punya keluarga masing-masing.

Meskipun tinggal satu kota, beberapa anaknya tidak pernah menunjukkan batang hidung.  Jangankan untuk merawat.  Untuk menjenguk dan sekedar menyapanya saja tidak pernah.  Padahal ia tahu, di luar sana mereka begitu aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan gereja.  Bisa jadi mereka takut jika harus kehilangan beberapa peser uang untuk biaya perawatan tubuh ringkihnya.

Bagaimana mungkin mereka begitu giat melakukan karya amal kasih di luar sana sementara dia, bapak kandungnya,  terbaring kesepian dan merana sendiri menunggu ajal?

Lelaki renta itu terpekur.  Matanya memejam dalam permenungan panjang.  Ia ingat beberapa anaknya senang mengadakan kegiatan doa di rumah.  Mengundang tetangga, mengundang pastor, mengundang siapa saja yang mau diundang.  Semua itu untuk mendoakannya.  Entah mendoakan untuk apa.  Doa supaya selalu sehat atau panjang umur, atau doa supaya cepat mati.  Ia tidak tahu bedanya.  Sejujurnya ia tidak butuh doa-doa.  Ia hanya butuh kehadiran anak-anaknya.  Butuh sapaan mereka.  Butuh perhatian mereka.  Tapi mereka semua seolah mengacuhkannya.

Hanya satu anaknya yang ia ingat merawat dan menjaganya selama ini.  Itupun masih dirasanya tidak tulus.   Tidak ihklas seperti yang selalu digembar-gemborkan selama ini.  Kalau ikhlas tidak mungkin ia mengeluh sepanjang hari.   Kadang ia berpikir, seandainya anaknya yang ini menikah dan punya keluarga seperti yang lainnya, akankah ia melakukan hal yang sama?  Mau merawat dan menjaganya di usia senja?

Lelaki renta itu terbaring di atas dipan.  Ada darah mengalir dari hatinya.  Sebuah hati yang terluka oleh keadaan.  Sebuah hati yang pernah memberikan banyak cinta.  Cinta sehabis-habisnya.  Sekarang hati itu tampak layu dan pucat pasi.  Tinggal menunggu waktu saja dan semua akan selesai.

Seperti kemarin2, lelaki renta itu menertawakan dirinya sendiri.  Sekaligus menertawakan hidup yang telah mengubah mata hati anak-anaknya.  Di benaknya, alangkah indahnya jika saatnya tiba.  Lebih cepat ajal datang, mngkin akan terasa lebih indah bagi semua.

Diam-diam ia kembali merajut mimpi-mimpinya......!  Membayangkan tentang surga dan neraka.  Sekaligus merindukan sang istri yang bertahun lalu telah pergi mendahuluinya menghadap ilahi. Ia berharap masih bisa tersenyum dalam penantian.  Meskipun hari-hari tak melulu membahagiakan.

0 komentar: